Cegah Depresi Selama PJJ, Disdikbud Bontang Lakukan Komunikasi Rutin Dengan Sekolah
Pewarta : Risma

By Annas 24 Okt 2020, 09:32:30 WIB PEMKOT
Cegah Depresi Selama PJJ, Disdikbud Bontang Lakukan Komunikasi Rutin Dengan Sekolah

Keterangan Gambar : Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Disdikbud Kota Bontang Saparudin (Foto/Dokumentasi.NB)


NEWS BONTANG- Kepentingan pendidikan sudah saatnya untuk lebih serius melihat kecenderungan rasa jenuh yang di derita pelajar karna pembelajaran jarak jauh (PJJ).

 

Peran serta orang tua dan sekolah menjadi penting agar anak bisa beraktivitas positif di tengah suasana pendemi Covid-19. Adanya kasus bunuh diri seorang siswi SMA di Gowa, Sulawesi Selatan baru-baru ini, yang diduga depresi menghadapi PJJ menjadi peringatan keras dan butuh solusi terkait dengan pembelajaran yang tepat.

Baca Lainnya :

 

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang, Saparudin menyebut, kejadian seperti ini bukanlah kali pertama terjadi. Di mana, peserta didik merasa depresi akan beban soal yang menumpuk selama melakukan PJJ.

 

Namun menurutnya, untuk di Kota Bontang sendiri, pihaknya selalu menjalani komunikasi rutin antara Disdikbud Bontang dengan seluruh kepala sekolah maupun guru di Kota Bontang. Hal ini tentu, berkaitan dengan perkembangan peserta didik yang melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

 

“Untuk disini Alhamdulillah, kami sering mengadakan pertemuan kepala sekolah, kami juga selalu berkomunikasi kepada guru-guru lewat WA. Semisal kalau memberi tugas itu jangan terlalu banyaklah,” ucapnya, saat ditemui di Gedung Autis Centre Bontang, Jumat (23/10) pagi.

 

Dengan begitu, Sapar merasa untuk sekolah di Kota Bontang masih dalam kondisi yang cukup aman dalam melaksanakan proses PJJ ini. Terlebih Ia berharap, pelajar Bontang dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh, dapat selalu termonitor dengan baik.

 

"Untuk Bontang saya rasa insyaAllah sudah aman kok, kami juga selalu memantau. Misalnya dalam sehari ada tiga mapel, kalau bisa yang dua itu jangan ngasih tugaslah, cukup satu," tuturnya.

 

Ia menambahkan, walaupun ada pengurangan dalam pemberian tugas, setidaknya ini tidak menjadi beban yang diterima oleh siswa. Sehingga dengan kurikulum yang disederhanakan ini, dapat mengurangi beban tugas peserta didik.


“Ada memang tugas itu wajib karena itu harus dikerjakan. Tapi kalau melampau target tidak mungkin lah. Oleh karena itu, kurikulum disederhanakan, memang tujuannya untuk mengurangi beban tugas siswa,” tandasnya.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment