Disdikbud Kembali Ingatkan Sekolah Tidak Boleh Jual LKS

By Annas 17 Feb 2020, 09:14:15 WIB Edukasi
Disdikbud Kembali Ingatkan Sekolah Tidak Boleh Jual LKS

Keterangan Gambar : Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Bontang, Saparuddin (Foto/dok.NB)


NEWS BONTANG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang kembali mengingatkan pihak sekolah untuk tidak menjual Lembar Kerja Siswa (LKS) karena dinilai memberatkan orang tua siswa.

“Sebelumnya sudah ada himbauan dan edaran bahwa guru tidak boleh menjual LKS lagi di sekolah,” kata Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Bontang, Saparuddin.

Kata dia, pihaknya menerima laporan masih ada sekolah yang menjual LKS kepada siswanya. Bentuknya pihak penerbit titipnya di Koperasi Sekolah.

Baca Lainnya :

“Kita tidak bisa deteksi karena di Koperasi mainnya," ungkapnya.

Disampaikannya, pada prinsipnya Disdikbud Bontang tidak menyetujui adanya sekolah yang menjual LKS. Terlebih jika sifatnya memaksa siswa.

Ia pun berjanji akan langsung menegur Kepala Sekolah yang kedapatan di Sekolahnya masih memperjual belikan LKS. Meski begitu, diakui  Saparuddin pihaknya hanya sebatas menghimbau dan tidak dapat menyalahkan, terlebih jika penjualan LKS dilakukan atas dasar kesepakatan antara pihak sekolah dan wali murid.

"Sebenarnya saya mendorong sekolah-sekolah untuk lebih kreatif. Misalnya buat soal, nanti juga hasilnya sama seperti LKS jadi bukan siswa lagi yang beli. Masukkan aja dalam anggaran dana BOS," terangnya.

Membuat soal sendir juga akan mendorong Guru untuk lebih mengerti apa yang ia ajarkan. Selain itu sesuai dengan perogram Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), tentang Merdeka Belajar.

Artinya mereka tidak boleh diintervensi oleh pihak siapa saja. Di Sekolah Dasar (SD)  ada yang namanya Kelompok Kerja Guru (KKG), tinggal mereka saja yang buat soal nanti kerjasama dengan penerbit.

Selain menambah wawasan guru, juga dapat angka kredit yang berguna untuk kenaikan pangkat. Jadi, banyak keuntungan. Apalagi kalau yang ada ISBN nya maka angkanya akan lebih tinggi.

International Standard Book Number (ISBN) itu semacam standar dalam menerbitkan buku, atau secara resmi. Keuntungannya kembali ke guru itu sendiri.

"Kalau mereka memang mau kami di disdik bisa memfasilitasi, misalnya kita bawa ke percetakan mana. Kalau mereka mau nulis. Nanti cara nebusnya didana bos karenakarena bos itu kan biaya oprasional sekolah," tandasnya. (*/Mira/NB).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment