Kisah Penjual Takjil, Mengais Rezeki di Tengah Pandemi

By Annas 30 Apr 2020, 09:20:22 WIB Kuliner
Kisah Penjual Takjil, Mengais Rezeki di Tengah Pandemi

Keterangan Gambar : Suasana Bazar Ramadhan Dadakan (Foto/Aji Sapta)


NEWS BONTANG – Menjelang sore hari saat Bulan Suci Ramadhan tentunya menjadi waktu yang dinantikan banyak orang untuk ngabuburit sekaligus berburu takjil di Bazaar Ramadhan sebagai menu untuk berbuka puasa.

Tepat di hadapan salah satu gedung bernyanyi keluarga yang ada di daerah Gunung Sari, terlihat puluhan pedagang menjajahkan jajanan untuk berbuka puasa (takjil) dengan bermacam-macam aneka menu pilihan.

Baca Lainnya :


Disinggung soal kebijakan  pemerintah yang menghimbau masayarakat untuk tidak menggelar Bazaar Ramadhan ditengah pandemi karena akan beresiko mengumpulkan orang banyak, Ike salah satu pedagang penjual jajanan takjil mengaku apa yang dilakukannya tersebut demi memenuhi kebutuhan.

Ike mengapresiasi sejumlah bantuan yang diberikan Pemerintah, seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), listrik dan air gratis. Namun ia mengaku masih memiliki sejumlah kebutuhan lain yang tetap harus dipenuhi terlebih saat menjelang lebaran.

“Kami bukannya ingin melawan kebijakan Pemerintah, memang seperti air dan listrik di gratiskan tetapi kami juga butuh penghasilan untuk membayar sewa rumah karena untuk sewa rumah tidak ada gratisnya,” tuturnya, Rabu (29/4) Sore.

“Saya sangat acungi jempol atas segala upaya pemerintah dalam menangani wabah Corona ini dengan meminta warga untuk berdiam di rumah, tetapi apakah bisa dengan bantuan Rp 500 ribu, yang tadinya dikatakan bantuan tunai Rp 500 ribu yang pada akhirnya hanya berupa uang Rp 200 ribu dan Rp 300 ribu dalam bentuk sembako. Tentunya itu tidak cukup untuk kami dalam satu bulan,“ ujarnya.

Pantauan lapangan, tampak pedagang tetap menerapkan protokol kesehatan dengan memberi garis pembatas agar para pengunjung tidak terlalu dekat dan meminta untuk para pengunjung agar menggunakan measker.

“Kalau menurut saya pribadi pembeli lebih ramai tahun ini, karena seperti di Baiturahman, Pasar Rawa Indah, Bontang Baru kan tidak ada bazar Ramadhan. Awalnya hanya saya sendiri yang berjualan, tapi teman-teman lainya juga ingin ikutan,” terangnya.

Ike mengaku hingga kini tidak ada larangan berjualan, namun sejumlah petugas kerap datang mengingatkan untuk selalu patuhi protokol kesetan dengan menggunakan masker, handsanitizer atau rutin mencuci tangan.

Ditempat yang sama, Ulfa salah satu pengunjung mengungkapkan bahwa awalnya ia bersama suami hanya sekedar berkeliling menunggu waktu berbuka (ngabuburit). Namun saat lewat nampak pengunjung bazar Ramadhan sepi pengunjung, sebab itu ia memberanikan diri untuk mampir berburu jajanan.

“Kita tetap menjaga batasan jarak dengan para penjual. Tentunya Ramadhan ini tidak seramai tahun kemaren,” terangnya.

Ia pun mengajak kepada masyarakat Bontang untuk bisa mematuhi himbauan kesehatan yang telah dianjurkan Pemerintah kepada masyarakat seperti memakai masker, menjaga jarak dan rajin untuk cuci tangan. (Asda/NB).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment