Sepenggal Cerita Pria Renta Penarik Gerobak di Tengah Virus Corona

By Annas 27 Mar 2020, 07:50:37 WIB Hiburan
Sepenggal Cerita Pria Renta Penarik Gerobak di Tengah Virus Corona

Keterangan Gambar : Naib 20 Tahun Jadi Penarik Gerobak (Foto/Mirah Hayati).


Penulis: Mirah Hayati 

NEWS BONTANG - Di suatu pagi menjelang siang, seperti biasa aku mengendarai sepeda motorku beriringan dengan temanku. Di dalam perjalanan aku tak sengaja melihat seorang pria tua renta yang sedang menarik gerobaknya, sesekali pria tua renta itu berhenti dan mengambil nafas panjang pada saat melewati tanjakan tepatnya di Jalan S. Tampubolon  Kelurahan Gunung Elai Bontang Utara Hop VI. Aku berusaha menghampiri dan mencari tau namanya yang belakangan ku ketahui namanya Naib berusia 84 tahun.  

Kutawarkan bantuan, awalnya Kakek Naib menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan “Gak usah Nak, merepotkan”, jawabnya dengan nafas lelah. Kembali ku tawarkan bantuan dengan meyakinkannya bahwa aku sama sekali tidak direpotkan, akhirnya ia pun mau.

Baca Lainnya :

Dibantu temanku Lydia, Kakek Naib kemudian naik di motorku. Ia mengalungkan tali gerobaknya di lehernya, kupastikan dia sudah duduk dengan baik dibelakangku barulah pelan-pelan ku gas motor yang ku kendarai. Di sepanjang jalan kami tak banyak bicara, karena ku tau dia lelah, dalam benakku mana anaknya, mana istrinya. Ku turunkan dia di halte bis, namun tak langsung ku tinggalkan. Ku ajak dia berbincang-bincang (ingin tahu lebih dalam) sambil kusuguhkan air mineral dan sebungkus roti.


Si kakek bercerita, ia dari Malang (Jawa Timur), sudah 20 tahun merantau ke Bontang ini. Disini (Bontang) tinggal sendiri di daerah Pisangan. Kerjaan sehari-harinya mengumpulkan kardus, botol, besi dan barang bekas lainnya. Istri dan kedua anaknya di Malang, anaknya pun sudah berumah tangga. Ia merantau karena tak kuat lagi bekerja keras (bertani dan mencangkul)

“Di Jawa kerjaan susah Nak, kasihan anak kakek mereka juga sudah berkeluarga. Gak mau kakek ngerepotin mereka.” ucapnya dengan lirih.

Ku pandangi dia sembari dalam hati “Sungguh setiap orang tua benar-benar berhati mulia, tak ingin merepotkan anak, tak mengharapkan balas budi. Sedangkan kita seorang anak kadang egois terhadap orang tua kita, member kabar pun jarang”.  Sampai disitu aku terdiam, si kakek pun tidak melanjutkan lagi obrolannya. Aku pun ijin untuk kembali ke kantor menyelesaikan tugasku.

Hari ini, Kamis 26 Maret 2020 aku berkunjung ke rumahnya. Pintu dibuka oleh seorang perempuan sekira berusia 65 tahun, ia mempersilahkanku masuk dan akupun ikut di belakangnya. Aku berkenalan dengannya, ia adalah istri Kakek Naib yang baru seminggu datang dari Malang “Mau temani kakek puasa” tutupnya.

Lanjut, dalam pertemuan kedua ini aku kiembali berbincang dengan Kakek Naib. Hari ini dia memilih tinggal di rumah dan tak keluar menarik gerobak dikarenakan ia sedikit tidak enak badan ditambah cuaca yang begitu panas terlebih dengan adanya Virus Corona Disiases 2019 (Covid-19).

Ia bercerita, ketika tidak keluar maka tidak ada penghasilan. Walaupun setiap hari keluar terkadang tidak dapat apa-apa “Kalah cepat sama gerobak yang pakai motor, kakek cuma narik gerobak dengan jalan kaki”. Ucapnya. Dari hasil mengumpulkan barang bekas hanya cukup untuk makan sehari-hari itupun masih dibantu oleh tetangga dan orang-orang yang memberinya disaat menarik gerobak “ Alhamdulillah ada saja yang memberi makanan”.

Katanya dia biasa menjual kardus ke pengepul dengan Harga kardus 600 rupiah, harga botol plastik 1000 rupiah per kilogram. Sekitar 2 bulanan barulah barang-barang bekas tersebut dijual ke pengepul, dari hasil penjualan tersebut Kakek Naib biasanya mendapatkan 300 sampai 400 ribu rupiah untuk bertahan hidup.

Meskipun dengan penghasilan yang sangat terbatas kakek tua itu tidak pernah berniat untuk meminta minta sama seperti kebanyakan orang. Sesekali aku termenung sambil menghela nafas panjang dan merasa bangga sama kakek itu walaupun usianya terbilang sudah renta tapi semangatnya untuk mencari reseki untuk keluarganya tidak pernah memudar. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment